Tuesday, November 17, 2020

PENGALAMAN INSTAGRAM DETOX

ilustrasi foto oleh : Ignite Treatment Centers



Hello, Friends!

Yaampun, ini adalah post yang tertunda hampir sebulan deh. Ingat, waktu itu, aku janji mau
update tentang social media detox yang aku jalani selama bulan Oktober. Oke, tanpa panjang-panjang
pembukaannya, mari kita lihat apa yang di dapat!

1. FOKUS PADA PEKERJAAN

Ya, jadi selama tidak membuka Instagram pribadi, aku jadi lebih fokus pada pekerjaanku.
Setiap kali bosan, jadi tidak scroll-scroll atau liatin ig story orang lain. Pekerjaanku ya memang
tetap membutuhkan social media, karena lapangan pekerjaanku social media content, jadi aku
masih memegang Instagram kantor. Tetapi sebatas untuk upload harian saja.

2. KEINGINAN BERBELANJA LEBIH BERKURANG

Kalian tahu kan, bahwa di Instagram story banyak sekali iklan iklan barang-barang? Nah, itu kadang
membuat saya ingin sekali berbelanja. Atau, karena saya mengikuti akun-akun jual beli, jadi rasanya
kepengen berbelanja. Ketika detox, keinginan sangat jauh berkurang, karena jadi tidak bisa lihat-
lihat barang-barang tersebut lagi. hehehe. 

3. TIDUR LEBIH CEPAT

Nah, siapa yang paling senang sebelum tidur scroll-scroll dan kepo mengenai kehidupan orang lain?
Saya juga termasuk! Terutama para selebgram dan Artis ibukota. hahaha. Sejak detox, dan jika sudah
selesai pekerjaan di rumah, jadi gak tau harus ngapain, jadi lebih cepat untuk santai2 di atas tempat
tidur, sambil berkhayal, dan lama lama jadi tidur.

4. KAMU TIDAK PERLU MENGETAHUI SEMUA YANG TERJADI DI DUNIA

Kadang-kadang hal ini membuat kita overwhelmed atau "kepenuhan informasi". Apalagi informasi-
informasi yang bikin panas hati dan pikiran, atau yang membuat hati sesak. Ternyata itu asyik, ketika
kita tidak mengetahui semua yang terjadi. Dan alangkah fokusnya, bila kita menjalani apa yang terjadi
di sekitar kita, secara nyata. Kamu tidak perlu bersusah hati, Bunda Theresa bilang "ketika kamu tidak
bisa mencukupi semua orang, cukupkanlah satu orang."



Untuk menjalani social media detox ini memang sangat diperlukan kesiapan hati, pikiran serta komitmen.
Apalagi saya hanya sign out dan tidak menghapus aplikasinya ataupun deactivate account
Sungguh-sungguh diperlukan tekad kuat untuk tidak kembali membuka/masuk ke akun itu lagi.
Karena menurut saya, Instagram adalah suatu hal yang paling sering dibuka dan menarik untuk 
dimainkan dibanding Twitter & Facebook. Tetapi saya senang, saya bisa melakukannya. 

Hal menarik lainnya adalah, saya juga jadi merasa "tidak apa-apa" untuk tidak mem-posting semua ke-
giatan saya di Instagram. Sekarang lagi ingin memberikan hal-hal menarik di Instagram story. Semoga
saya berhasil!


xoxo,
Janice

Sunday, October 4, 2020

TENTANG PANDEMI 2020 & AKU


Halo, semuanya! Apa kabar? Kuharap kita semua baik-baik saja. 
Di post ini, bukan mau menyebarkan aura positif sih, lebih mau ke curhat tentang bagaimana perasaanku menyikapi keadaan sekarang ini. So, buat kalian yang merasa down, please jangan baca dulu untuk sekarang, karena ya mungkin ini bisa membuat kalian lebih down lagi heheh. 

Jadi, aku tuh tipe orang yang suka overthinking. Either in a bad or a good way. Aku menikmati memikirkan hal-hal yang rumit, kadang-kadang suka tiba tiba terlintas dan mempertanyakan hal itu. Oke. Selain itu, aku gak suka sesuatu yang berantakan/gak tersusun/tersistem/terorganisir dengan baik. Padahal aku Pisces, yang katanya paling benci aturan. Justru aku suka sama aturan, jadi jelas mau kemana, mau ngapain, dan apa yang harus dilakukan gitu loh.

Terjadilah si pandemi ini, di seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia. Yang membuat semuanya jadi berantakan. Sampai ke hal hal kecil dalam hidup. Sekarang, kita gak bebas mau bertamu, mau memeluk, mau ngobrol, mau ngapa-ngapain, parno dan serba gak pasti. Mau ngadain acara ini, takut. Mau dateng ke acara sana, takut. Pokoknya serba bingungin dan bikin khawatir berlebih. Nah, ada hari-hari dimana rasanya aku cape banget, ngeliat berita terutama para pekerja medis/nakes yang kasihan dan para pembantu2nya seperti janitor di RS, petugas makam, ambulans, dkk. Terus cape rasanya melihat orang bersedih karena kematian orang terdekat. Kalian cape gak sih, tiap hari harus pergi keluar, beraktivitas dengan dipenuhi dengan kewaspadaan? Disinilah, semuanya dimulai, aku cape harus waspada, cape harus mikir siaga, cape harus khawatir terus setiap hari. Cape harus nahan-nahan ngobrol gak boleh sering, harus pakai masker, cape harus parno pakai hand sanitizer/cuci tangan terus. Rasa-rasanya semua dunia terbalik. Berubah kebiasaannya, ya itulah yang disebut NEW NORMAL. Beradaptasi dengan keadaan baru yang harus diterima. Masalahnya, serba mendadak! Gak dikasi waktu! Tapi bukannya, aku jadi gak mau waspada, dan nantangin si virus yah. Aku akan tetap waspada, dan mengikuti prokes serta tetap menjaga diri sendiri dan orang lain. Cuma cape aja :')

Teruslah aku berpikir-pikir tentang keadaan ini, dan mendapat sebuah analogi tentang kewaspadaan yang belum juga usai usai. seperti:

"MENAIKI SEBUAH TANGGA KAYU YANG REYOT"
 
dimana kamu setiap langkahnya harus berpikir apakah the next step saya aman? Apakah saya akan jatuh? Apakah tangga ini akan keropos? Apa yang harus saya lakukan jika ini jeblos? Apa saya akan selamat? 

Kurang lebih seperti itu lah keadaan anxiety dan perasaan ku selama ini. Iya, dia kadang muncul, kadang enggak. Seperti yang semua orang di dunia ini lakukan, aku cuma bisa berdoa, dan berharap sambil terus menjaga diri. Tidak ke kerumunan, tidak makan dine in, menggunakan masker dengan lapisan tisu lagi, supaya proteksi ganda, dan tidak ngobrol selama tidak benar-benar diperlukan di kantor. Karena aku adalah mereka, para pejuang ceching ceching (alias uang), yang harus punya tubuh extra kuat dan bandel menghadapi ini semua.

Teman-teman, kuharap kita semua tidak menantang virus ini, dan juga tidak lengah. Jangan sekali-kali kita semua merasa kita sehat dan kita bebas dari virus ini. Virus ini membenci siapapun yang menganggap mereka remeh, karena ya memang mereka itu kuat.



xoxo,
Janice

Saturday, April 4, 2020

TERUNTUK DIA SI EMPUNYA DUNIA


Siapalah kami, Manusia, tidak sebesar debu dari mataNya yang singgah di langit yang tingkatnya tidak dapat lagi kami sebutkan.
siapalah kami, Manusia, sehingga Engkau memberikan rupa dan akal budi yang menyerupai Engkau? 

Makhluk yang ditugaskan untuk menguasai Bumi. 
Tapi akhirnya lupa diri.

Ya Tuhan, apa yang telah kami lakukan?
Kami tega menghinaMu dengan mengutuki diri sendiri.
Kami tidak bersyukur atas hidup yang diberikan dengan bunuh diri.
Kami tega membuang hidup yang begitu berharga dan dibuat dengan amat teliti.
Kami makan apa yang seharusnya tidak kami makan.
Kami membuang muka terhadapMu.
Kami menghempaskan pelukan yang Kau berikan.
Kami tidak ingat lagi siapa Engkau, di tengah hiruk pikuk dunia ini.
Kami membangkang ajaranMu dalam indahnya dunia gemerlap.
Kami lupa Tuhan melihat dalam takabur kekayaan kami.

Kami lupa asal diri kami dari debu dan tanah yang tidak berharga di dunia ini. yang disapu orang,
yang dialirkan hujan dan lenyap, yang ditiup angin, yang dibersihkan orang.

Kami terlarut dalam kesombongan atas perintah “Kuasailah Dunia ini dan seisinya.” 
Kami hilang kendali, membabi buta, tidak paham batasannya, tidak tahu apa artinya.
Kami mencuri. Kami mengambil apa yang bukan milik kami, tanpa mengembalikannya.

Kami tertawa di atas tangisMu
Kami tersenyum di atas pedihMu
Kami makan di atas lukaMu
Kami minum di atas lelahMu

Apakah Dia akhirnya lelah? Apakah Dia sudah cukup berurusan dengan kita?
Apakah Dia sudah muak? Apakah ini waktunya pembalasan? Apakah Dia justru takut
terhadap makhluk ciptaanNya sendiri yang digadai-gadai paling jenius di muka bumi? Kata seorang penulis.

Ya Tuhan, palingkanlah mukaMu sekali lagi terhadap kami.
Kami mohon ampun dan tersungkur di kakiMu.
Ya Tuhan berikanlah maaf dari mulutMu,
alirkanlah tangis dari mataMu. 
Lihatlah kami ya Tuhan. Kami hanya punya Engkau.
Ya Tuhan, ulurkanlah tanganMu, lukislah pelangiMu.

Ampuni kami, karena kami tidak tahu apa yang kami perbuat.
Ampuni kami, karena kami akan melakukanya lagi.






photography by : Massimiliano Marosinotto on unsplash.com
location : The Canary Island, Spain

xoxo,
Janice

Pageviews

Janice Angelica Liando. Powered by Blogger.