Jadilah, aku bertanya-tanya, kenapa hari itu aku marah? Aku marah kepada siapa sebenarnya? Apa benar Suamiku salah hari itu? Apa yang salah hari itu? Apa yang membuatku marah?
Sebagai konteks, hari itu, aku mengajak Mama & Suster aku ke wilayah wisata dan dari awal sudah berjanji untuk ajak mereka makan ke restoran es. Memang sudah sore sih, Suamiku yang nyetir mobilnya dari siang. Kemudian, pas kita ke restoran es yang mau dituju, eh kesorean dan keburu tutup. Lalu, aku bilang kita ke tempat favoritku saja, yuk! Tapi karena emang udah agak sore, dan mungkin suamiku juga sudah agak lelah, dan memang tempatnya itu 1/2 jam dari restoran Es yang tutup ini. Berakhir, gak jadi ke tempat es favoritku itu. Di saat itu, aku bete. Kesel. Jadi agak kurang menghiraukan Suamiku yang nyari tempat es lain yang lebih dekat.
Lalu di malam kemarin itu, aku disuruh refleksi untuk mendapatkan pesan berharga. Dan langsung dikasih jawaban segamblang gamblangnya.
Aku marah karena aku tidak berdaya untuk gantian nyetir mobilnya, walau aku rela.
Aku marah karena rencanaku tidak berjalan sesuai yang aku pikirkan.
Aku marah karena aku mungkin saja mengecewakan Mama & Susterku yg aku udah janjiin.
Aku marah karena aku tidak berdaya apapun untuk menolong situasi ini.
Aku marah karena KETIDAKBERDAYAANKU di saat itu. Dan aku memproyeksikannya ke orang lain yaitu suamiku. Aku kesel, kenapa harus bela-belain ke situ, padahal udah tahu pas tiba akan tutup.
Aku memang tidak ngomel-ngomel, tapi aku tahu, energi ku di saat itu, buat semuanya jadi gak enak. Walau akhirnya aku bantuin juga dia nyari cafe terdekat yang tetep enak. Tapi, aku merasa bersalah, kenapa aku marah, padahal itu bukan salah dia. Padahal dia bela-belain loh ke resto Es itu yang cukup jauh, karena katanya emang enak dan hidden gem. Dia udah cape nyetirin dan yg bayarin, kok aku gak tahu diri banget ya?
Semoga aja, melalui pelajaran berharga ini, aku bisa lebih aware lagi sama emosi ku.
xoxo,
Janice
