Wednesday, October 28, 2026

Proyeksi Ketidakberdayaan & Kekecewaan

Hi, Semuanya!

Beberapa hari yang lalu, sebelum lelap tertidur, aku sengaja melakukan breathe work sambil bertanya ke dalam diri mengenai tugas hidupku di Dunia. Bukan jawaban atas pertanyaan itu, malah ngelambrahnya ke momen aku kesal sama Suami entah 2-3 bulan yang lalu. 

Jadilah, aku bertanya-tanya, kenapa hari itu aku marah? Aku marah kepada siapa sebenarnya? Apa benar Suamiku salah hari itu? Apa yang salah hari itu? Apa yang membuatku marah?

Sebagai konteks, hari itu, aku mengajak Mama & Suster aku ke wilayah wisata dan dari awal sudah berjanji untuk ajak mereka makan ke restoran es. Memang sudah sore sih, Suamiku yang nyetir mobilnya dari siang. Kemudian, pas kita ke restoran es yang mau dituju, eh kesorean dan keburu tutup. Lalu, aku bilang kita ke tempat favoritku saja, yuk! Tapi karena emang udah agak sore, dan mungkin suamiku juga sudah agak lelah, dan memang tempatnya itu 1/2 jam dari restoran Es yang tutup ini. Berakhir, gak jadi ke tempat es favoritku itu. Di saat itu, aku bete. Kesel. Jadi agak kurang menghiraukan Suamiku yang nyari tempat es lain yang lebih dekat. 

Di saat itu juga, aku gak ngeh dan gak mau mencari tahu kenapa aku marah? Aku marah karena apa? Karena ya, saat itu aku tahunya aku marah, karena gak berjalan sesuai rencana ku juga. Walau aku tahu, aku juga gak mau nyusahin Suami ku, kasian udah seharian nyetir. Tapi, aku juga kesel karena gak jadi ke tempat favoritku itu, ditambah restoran Es yang mau dicoba malahan tutup. 

Kalo dilihat dari Human Design ku, emang aku gak gitu boleh merencanakan sesuatu terlalu fixed. Karena ujung2nya akan kecewa kalo gak berjalan. Harus boleh menyisipkan 'It's okay if it doesn't go as what I planned' .

Lalu di malam kemarin itu, aku disuruh refleksi untuk mendapatkan pesan berharga. Dan langsung dikasih jawaban segamblang gamblangnya.

Aku marah karena aku tidak berdaya untuk gantian nyetir mobilnya, walau aku rela.
Aku marah karena rencanaku tidak berjalan sesuai yang aku pikirkan.
Aku marah karena aku mungkin saja mengecewakan Mama & Susterku yg aku udah janjiin.
Aku marah karena aku tidak berdaya apapun untuk menolong situasi ini.

Aku marah karena KETIDAKBERDAYAANKU di saat itu.
Dan aku memproyeksikannya ke orang lain yaitu suamiku. Aku kesel, kenapa harus bela-belain ke situ, padahal udah tahu pas tiba akan tutup. 

Aku memang tidak ngomel-ngomel, tapi aku tahu, energi ku di saat itu, buat semuanya jadi gak enak. Walau akhirnya aku bantuin juga dia nyari cafe terdekat yang tetep enak. Tapi, aku merasa bersalah, kenapa aku marah, padahal itu bukan salah dia. Padahal dia bela-belain loh ke resto Es itu yang cukup jauh, karena katanya emang enak dan hidden gem. Dia udah cape nyetirin dan yg bayarin, kok aku gak tahu diri banget ya?

Semoga aja, melalui pelajaran berharga ini, aku bisa lebih aware lagi sama emosi ku. 


xoxo,
Janice

Monday, October 26, 2026

Rose Tinted Glasses

 

by Morgan Hebard

Hi, Semuanya!

Ada yang pernah denger quotes tersebut?

"To See Life from A Rose Tinted Glasses."

Beberapa tahun belakangan ini, mungkin 3 tahun sebelum dan saat aku mulai menyiapkan diri ku untuk ke jenjang pernikahan, aku mulai berbenah diri. Karena aku tahu, dan sadar, aku ingin memutus pola buruk di kehidupan relationship orang tua. 

Bersyukurnya, aku tidak terlambat terlalu jauh. Di tahun-tahun tersebut, tiba tiba aja dipertemukan dengan akun-akun yang mengajarkan tentang kehidupan dari kacamata spiritual. Dari sisi inner work, shadow work, kehidupan balance antar feminine & masculine, dll (tapi ini kita bahas nanti saja ya... panjang dan banyak.) Dari situ, aku mulai sedikit2 menyelami diri sendiri, mengenal emosi, menyadari pola pola buruk. Walau aku belom paham banget, tapi setidaknya, di dalam diri ini, sudah mulai ada lilin lilin kecil yang menyala dan excited untuk memulai perjalanan batin.

Aku berkoar-koar di dalam hati, "Aku gak mau jadi seperti orang tuaku di kehidupan pernikahanku." Tapi, ternyata pas beneran sudah menikah dan tinggal serumah, disitulah, segala koar-koarku diuji. Gak cukup cuma ngelist pola buruk ortu ku apa saja, tapi disitu, aku dihadapkan kenyataannya. Karena reaksi instan dari trigger pasangan adalah pola buruk ortuku. Maksudnya, reaksi instan ku itu = pola buruk ortuku. 

Seperti yang aku bilang diatas, untung saja, aku 'cepat' menemukan akun-akun tersebut. Jadi, di dalam kehidupan awal2 pernikahan ku itu, akun2 tersebutlah yang membantu mengingat ingat koar ku. Mereka yang membantuku menyelami diri lagi, membantu proses nya, sehingga lebih membuka mata dengan apa reaksi ku. 

Mungkin, kejadiannya berbeda, tapi kan konsep triggernya sama, dan apa reaksi ku? Aku bisa be-reaksi sama persis dengan ortuku, atau aku bisa memilih untuk be-reaksi sebaliknya. Untuk memutus rantai siklus.

Dari situ, aku belajar terus terus terus, memulai terbuka terhadap teknik meditasi dan inner work. Memulai terbuka terhadap ajaran-ajaran spiritual. Tentunya aku berdoa supaya yg aku dapat ya sejalan, dan supaya aku diberikan hikmat selalu untuk filtering.

Dan, gak cuma tentang relationshipku aja yang aku bisa benahi setidaknya tidak mengulang apa yg terjadi di keluargaku. Tapi, aku jadi bisa lihat Dunia dan hidupku melalui ROSE TINTED GLASSES itu. 


Aduh, forewordnya panjang banget yes.


Intinya, aku ngerti maksud ROSE TINTED GLASSES itu di kehidupan nyata. Ketika aku 'memakai' kacamata berwarna Rose itu, aku melihat dunia jadi warna rose yang cantik. Aku gak melihat dunia dengan warna butek dan kelam. Karena aku sudah menggunakan pandangan yang lain dalam melihat Dunia di sekitarku. Aku bisa lihat keindahan2 kecil yang terjadi di sekitarku. Akhirnya, aku bisa paham arti dari quotes itu. Indah sekali :) 

Friday, September 26, 2025

A Joy to Live Like a Child do

Hidup berdampingan dengan sebuah kampung, dimana aku bisa melihat anak anak kampung bermain bola, berenang di kolam kubangan dengan ceria, menikmati hujan bersama teman temannya. 

Dan aku juga menyaksikan bagaimana anak anak yg tinggal di apartemen elit bermain bersama teman2 sebaya nya, menikmati apapun itu.

Mereka gak tau apa itu kaya miskin.
Mereka gak tau apa itu layak tidak layak.
Mereka gak tau apa itu nyaman tidak nyaman.
Mereka tidak peduli akan punya dan tidak punya.

Mereka hanya menikmati apapun yang sudah mereka punya. Mereka menciptakan bahagia dari apa yg mereka punya. Mereka menjalani hari tanpa berpikir kenapa, kalau, seandainya.

Mereka hidup di saat ini, detik ini, hari ini. Mereka mencintai hidup setiap hari tanpa berpikir esok bagaimana. Itu sudah ada yang atur. Aku hanya perlu hidup dan menikmatinya sebaik baiknya hari ini. Aku hanya perlu memikirkan bagaimana caranya aku bahagia hari ini? Aku gak berpikir resiko apa yang akan terjadi, karena itu membuat aku akan hanya berada di dalam rumah, dan gak menikmati 1 hari kebahagiaan yg aku punya.

Aku cuma punya ini, dan saat ini. Aku punya diriku. Aku harus hidup sebaik2nya dan menikmati hari ini. Ya, 1 hari 1 hari.

Friday, August 29, 2025

Lived Life As A Candle



Hi, Semuanya :) Kembali lagi dengan aku & jurnal harianku. Kali ini jadi keinget percakapan antara aku dan temanku waktu itu.

Saat itu, dia pernah bilang: "Aku pengen hidup kayak Cahaya Matahari. Kenapa? Karena Cahaya Matahari itu kalau pas dia muncul, dia akan memberi warna pada Dunia." Maksud dia adalah, membuat orang memancarkan bakat & warnanya masing-masing. Seperti Cahaya Matahari yang memunculkan warna dan jati diri di tiap benda yang disentuhnya.

Dari hari itu, aku jadi terpikir, kalau aku, aku pengen hidup seperti apa ya?

Lalu, suatu hari, aku ikut kebaktian di gereja dan menatap lilin. Sambil keinget juga suatu cerita tentang lilin, pensil & penghapus. Mereka berguna sampai kesudahannya. Bener bener membantu orang sampai titik dimana mereka sirna dan gak ada lagi. 

Aku pengen punya hidup & menjalani hidup yang seperti itu. Tetap berguna, sampai nanti aku sudah tidak mampu lagi.



xoxo,
Janice



Aku Layak Bangun dengan Langit Seperti Ini


aku menemui Engkau dalam Langit pagi ini,

aku melihat Engkau dalam indahnya bentuk bentuk awan,

aku merasakan Engkau dalam hembusan sejuk angin yang bertiup melewati mukaku,

aku menemui Engkau dalam indahnya warna horizon,

aku merasakan Engkau dalam cahaya oranye Matahari yang terpantul di kaca gedung pencakar langit,

aku melihat Engkau dalam gradasi organik langit,

Tanamkanlah kasihMu yang berkelimpahan, tidak terbatas, tidak bersyarat dalam hatiku setiap hari. Agar orang melihatMu dalam diriku.

Ya, Tuhan, aku layak bangun setiap hari dengan Langit Mu yang megah, yang membawa pengharapan baru, yang membuat orang tersenyum, yang membuat orang mengingat Engkau Sang Empunya Semesta. Dunia, dan Bumi dimana segala hal selaras, hidup berdampingan dengan baik, sehat, dan bahagia. Semua memuji karya ciptaanMu yang agung setiap pagi, setiap malam. Bangun dengan perasaan bersyukur, dengan senyum di wajah, dengan hati yang hangat.

Ya, aku memilih untuk hidup di sisi Bumi yang Baru.

29.08.25
7.55am

Pageviews

Janice Angelica Liando. Powered by Blogger.